Tampilkan postingan dengan label APPMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label APPMI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Mei 2011

Besok, Keraton Solo Jadi Saksi Show Anne Avantie

BERKARYA selama 22 tahun dan terus mendapat apresiasi masyarakat, bukanlah perkara mudah. Anne Avantie melalui pergelaran "Anne, Cinta & Sahabat" yang akan berlangsung di Pelataran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Jumat (27/5) malam, bermaksud berbagi pengalaman hidup dan menginspirasi wanita Indonesia. Pergelaran ini sekaligus menjadi media misi luar biasa Anne Avantie yang dipersembahkan bagi 2.500 tamu undangan yang terdiri dari para sahabat.

"Ada misi terselubung di balik pergelaran besar ini. Keraton sebagai cagar budaya perlu dijaga dan dilestarikan, karena kita tidak mungkin terus meminta perhatian pemerintah-yang diperlukan adalah aksi nyata. Maka, Minggu (22 Mei lalu, bekerja sama dengan salah satu merek cat, kami memperbaiki dan mengecat beberapa bagian Keraton, minimal sebagai daya tarik kembali bagi pengunjung yang makin lama makin dapat dihitung kembali dengan jari. Besok, tidak hanya peragaan busana oleh 55 model, tapi akan ada pertunjukan teater oleh 50 selebriti Tanah Air. Bahkan, ada ritual tersendiri saat Gusti Timor keluar dari istana dengan tandu asli," sahut Margaretha Widyawati, Humas Anne Avantie Management di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kamis (26/5/2011) sore.

Mengambil lokasi di Keraton yang masih sarat akan unsur religius, memungkinkan sejumlah upacara dilangsungkan jauh sebelum pergelaran.

"Sebelum memasang panggung Minggu lalu, tentunya kami mengadakan acara selamatan yang diberi nama Wilujengan, dan nanti malam pukul 24.00 WIB akan digelar acara Chaos Dhahar untuk acara sesajen lengkap. Tamu undangan dan pengisi acara juga kami sarankan untuk mengikuti aturan yang berlaku di keraton," tutur Margaretha.

Dalam rombongan, sejumlah desainer ternama Tana Air antusias mendukung pergelaran ini, di antaranya Lenny Agustin, Sofie, Deden Kuswanto, dan Yongki Komaladi.

"Seluruh pendukung acara pagelaran 'Anne, Cinta & Sahabat' tidak kami bayar sepeserpun. Kembali lagi karena pergelaran ini untuk sahabat," tutupnya.

Sc : Oke Zone 

Sabtu, 21 Mei 2011

Kilas Fashion : Etnik, Kekuatan Indonesia Saingi Brand Internasional

TAMPIL fashionable kini sebuah kebutuhan bagi semua orang. Dan salah satu pemuasnya adalah menggunakan busana ready to wear alias siap pakai yang dinilai lebih membumi.

Dibandingkan dengan busana couture yang berkemas eksklusivitas, busana ready to wear yang lebih membumi memiliki peminat tinggi. Selain karena modelnya yang mengikuti selera pasar dan lebih wearable, tawaran harga pun tak terlalu mencekik. Hal inilah yang kemudian menggugah para desainer untuk mencoba mencipta kreasi ready to wear.
Deden Siswanto, Ketua APPMI Jawa Barat dalam sesi konferensi pers yang berlangsung di Harris Hotel & Convensions Kelapa Gading, Jakarta, Jum'at (20/5/2011) mengatakan, sedianya busana yang diciptakan para desainer tidak hanya menjual mimpi dalam runway, tapi juga wearable. Saat ini, kenyataannya manusia memerlukan busana siap pakai. Ini adalah wacana baru untuk dunia fesyen Indonesia.

Senada dengan pernyataan Deden, desainer senior Poppy Dharsono pun mengutarakan hal yang sama. "Fesyen itu memang wajib huru-hara dalam menampilkan koleksinya. Tapi ada hal penting yang harus diperhatikan yakni busana tersebut harus bisa dipasarkan dan dipakai masyarakat. Jadi tidak bersifat ilusi semata dan kemudian masuk gudang, tetapi juga bisa digunakan para pecinta mode, " ungkapnya.

Untuk itulah, para desainer dituntut membaca secara cermat selera pasar sehingga dapat menciptakan busana yang wearable sehingga masyarakat pun melirik. Dengan suhu pasar yang meningkat, gairah ready to wear pun menggeliat.

Ya, harapannya adalah dengan meningkatnya permintaan menandakan bahwa gairah pasar busana ready to wear sangatlah potensial. "Kita semua harus terus berjuang agar fesyen tanah air dapat menjadi tuan rumah di negara sendiri. Meskipun kenyataanya tidaklah sesulit yang Anda bayangkan, kita jangan pernah mengacuhkan label dalam negeri di antara jubelan brand ready to wear asal luar negeri. Justru, kita perlu mengedepankan touch of etnik, nuansa elegan, serta kemasan pricing yang tepat," tutur Poppy, semangat

SC  : OkeZone 

Kilas Fashion : Korea & Hong Kong Berpeluang Jadi Pusat Mode Asean

ASOSIASI Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) menyatakan bahwa desainer tidak bisa disamakan dengan industri besar yang dapat membuat produk fesyen dengan skala besar. 
"Jangan suruh desainer untuk berdagang karena desainer bekerja untuk laboratorium industri besar, mereka hanya melakukan proses kreatif saja. Kalau proses modifikasi itu tugas mereka yang ingin jual banyak," ujar Chairman APPMI sekaligus salah satu desainer Tanah Air, Taruna K Kusmayadi ketika ditemui media usai acara “Breakfast Meeting” di Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (11/5/2011).

Lebih lanjut, desainer yang kerap disapa Nuna ini mengatakan, hasil rancangan desainer yang ditampilkan di pergelaran busana hanya sekira 40 persen saja yang diproduksi, sementara 60 persen hanya untuk konsumsi publik.

Ketika ditanyakan mengenai peluang Indonesia untuk menjadi pusat mode Asean, Nuna menilai bahwa impian itu terlalu ambisius karena Korea dan Hong Kong lebih berpeluang.

Sebelumnya, Kemenperin dan Aprindo mendesak desainer dan pelaku bisnis fesyen untuk membuat desain yang nyaman sekaligus modis agar dapat diburu para pembeli potensial.

Sc ; OkeZone 

Jumat, 20 Mei 2011

Gelaran Cocktail Wear 15 Desainer APPMI

USAI menggelar “Moslem Wear”, Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) kembali menggelar peragaan busana bertema “Cocktail Wear”. Pergelaran memamerkan koleksi 15 desainer.

Ke-15 desainer yang unjuk gigi dalam pergelaran “Cocktail Wear” di Grand Ballroom, Harris Hotel & Conventions Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (19/5/2011) malam, di antaranya Junie Kwanda, Rendy Hapsanto, Joko Sasongko, Harry Lam, Jimmy Fei-Fei, Zainal Songket, Rebecca Ing, Rudy Lim, Melia Wijaya, Hartono Gan, Misan, Fomalhaut Zamel, Jazz Pasay, Grace Fenny, dan Poppy Karim.

Masing-masing desainer menampilkan delapan koleksi busana pesta maupun kebaya dengan detail maupun cutting yang menawan. Diawali dengan Junie Kwanda bertema ‘Playful Weave’, yakni koleksi baby doll yang apik dengan aplikasi anyaman di beberapa bagian busana. Dilanjutkan dengan Rendy Hapsanto yang mengedepankan tema ‘Batik Innovation’ yang tetap mengusung batik Parang dengan menambahkan motif batik yang ia kembangkan sendiri.

Kreasi Joko Sasongko yang bertemakan ‘Magical Flower’ merupakan koleksi kebaya bersiluet feminin dengan aksen payet dan kristal Swarovski. Lain lagi koleksi mini dress, A-line, dan H-line Harry Lam yang mengangkat tema ‘Rhapsody in White', diartikan sebagai suasana gembira seperti berada di surga.

Tema ‘Be Fresh’ oleh Jimmy Fei-Fei memamerkan koleksi gaun berbahan sifon dan ornamen dari bebatuan berwarna ungu dan oranye. Rancangan bertema ‘Sriwijaya di Waktu Malam’ oleh Zainal Songket menghasilkan decak kagum dengan menampilkan koleksi apik dengan material kain tradisional. Sementara ‘City Bloom’ karya Rudy Liem menampilkan koleksi cantik yang terinspirasi dari penari balet yang bergaya romantis namun modern.

Mengambil gaya etnik kotemporer, tema ‘The Warrior’ karya Fomalhaut Zamel menceritakan garis rancangan prajurit yang kental akan unsur Minang yakni dengan memasukkan songket ‘Silungkang’ dan memadukannya dengan bahan lain. Sedangkan Jazz Pasay dengan tema ‘Angsa Merah’ memamerkan koleksi yang terinspirasi dari film ‘Black Swan’ dan ‘Red Riding Hood’.

Rancangan Grace Fenny bertema ‘Rustic Interlude’ menampilkan busana yang dipadukan antara detail yang lembut di atas kreasi yang dramatis. Poppy Karim dengan tema ‘The Acculturation in Glam’ merupakan koleksi kebaya yang terpadu antar unsur Eropa dengan klasik Jawa yang apik.

Apa yang dibuat Melia Wijaya dalam karyanya yang bertema ‘Earthquake’ patut dapat acungan jempol. Pasalnya, Melia menampilkan koleksi istimewa berbahan sutra Makasar dengan sistem tye dye. Hartono Gan mencoba mengkisahkan sosok Carolyn Bessete Kennedy yang dia anggap memiliki gaya yang inspirasional dan tidak kaku dalam koleksinya yang dia beri tema ‘The Nineties’.

Terakhir, kreasi Misan bertema ‘All Purpose Perfection’ merupakan gabungan berbagai macam kain print dengan warna yang kuat dan cerah mencapai kesempurnaan karya yang kuat dan menggoda dengan penampilan yang glamor.

Sc : OkeZone