Tampilkan postingan dengan label JFFF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JFFF. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2011

Biyan Wanaatmadja dan almarhum Prayudi Juga Menerima Arward JFFF 2011

SELAIN Ramli, siapa lagi desainer yang akan menerima penghargaan Fashion Icon di ajang Jakarta Fashion & Food Festival 2011 malam ini. Ini dia bocoran dari Ramli.
“Selain saya, desainer yang terima Fashion Icon Award di perhelatan JFFF 2011 adalah Biyan Wanaatmadja dan almarhum Prayudi,” kata Ramli yang dihubungi okezone melalui telepon seluluernya, baru-baru ini.

Terkait dirinya terpilih mendapatkan penghargaan tersebut, Ramli pun mengaku senang.

“Alhamdulillah saya mendapatkan penghargaan Fashion Icon di ajang JFFF. Ternyata, upaya saya memopulerkan bordir tidak sia-sia,” kata Ramli.

Ramli mengaku pertama kali memperkenalkan bordir untuk pemanis busana tahun 1970-an. Saat itu, busana dengan detail bordir tidak banyak, kecuali untuk busana resmi macam kebaya dan kostum penari.

“Sekarang bordir bisa ditemukan di mana-mana, baik busana kerja, busana pesta, dan lain-lain,” tambahnya.

Ramli pun berharap, semoga penghargaan ini bisa makin memberikan ruang bagi para pengrajin bordir lebih dikenal dan diberdayakan untuk memajukan fesyen di Tanah Air.

“Dengan penghargaan ini, maka desainer yang akan memanfaatkan jasa para pengrajin bordir makin banyak. Kalau sekarang sudah banyak, nanti makin banyak,” tutup desainer yang sudah berkarier di bidang rancang busana selama 35 tahun ini.

Dihubungi secara terpisah, salah satu juri Fashion Icon Award 2011, Taruna K Kusmayadi mengatakan kriteria desainer pilihan tersebut secara singkat.

“Penghargaan itu untuk pencetus konsep ready-to- wear di Indonesia, insan mode yang berjasa menghidupkan kembali bordir, dan perancang yang sukses mengembangkan brand ready-to-wear,” jelas desainer yang kerap disapa Nuna ini.

Sebelumnya penghargaan Fashion Icon pernah digelar empat kali di ajang JFFF. Tahun 2006 ada tiga ikon yang terpilih, yakni Iwan Tirta, Peter Sie, dan Okky Asokawaty. Setahun kemudian terpilih Pia Alisyahbana, Ali Sadikin, dan Susan Budiardjo.

Kemudian 2008 ada Poppy Dharsono, Edward Hutabarat, dan Krisdayanti. Selanjutnya tahun 2009, JFFF memberikan penghargaan kepada Rudy Hadisuwarno, Martha Tilaar, dan Santosa Doellah. Untuk Fashion Icon Awards 2010 diraih Josephine Komara atau Obin, Ninuk Mardiana Pambudi, dan Christine Barki.

Sc ; OkeZone

Ramli Senang Raih Fashion Icon Award 2011

TEKA-TEKI seputar nama perancang yang berhak mendapatkan penghargaan Fashion Icon JFFF 2011 akhirnya terjawab sudah. Salah satu desainer pilihan itu adalah Ramli.
“Alhamdulillah saya mendapatkan penghargaan Fashion Icon di ajang JFFF. Ternyata, upaya saya memopulerkan bordir tidak sia-sia,” kata Ramli yang dihubungi okezone melalui telepon selulernya, baru-baru ini.

Ramli mengaku pertama kali memperkenalkan bordir untuk pemanis busana tahun 1970-an. Saat itu, busana dengan detail bordir tidak banyak, kecuali untuk busana resmi macam kebaya dan kostum penari.

“Sekarang bordir bisa ditemukan di mana-mana, baik busana kerja, busana pesta, dan lain-lain,” tambahnya.

Ramli pun berharap, semoga penghargaan ini bisa makin memberikan ruang bagi para pengrajin bordir lebih dikenal dan diberdayakan untuk memajukan fesyen di Tanah Air.

“Dengan penghargaan ini, maka desainer yang akan memanfaatkan jasa para pengrajin bordir makin banyak. Kalau sekarang sudah banyak, nanti makin banyak,” tutup desainer yang sudah berkarier di bidang rancang busana selama 35 tahun ini.

Sc : OkeZone 

3 Desainer Bakal Terima Fashion Icon Award di JFFF


AJANG Jakarta Fashion & Food Festival 2011 akan memberikan piala Fashion Icon Award bagi mereka yang berjasa dalam perkembangan fesyen di Tanah Air. Nama tiga desainer pilihan tersebut akan diumumkan malam ini.

“Benar. Kami akan memberikan penghargaan kepada tiga desainer yang sudah ikut andil memopulerkan fesyen dalam negeri. Siapa sosok itu, tunggu saja!” kata Anwar A Salim selaku Ketua Panitia JFFF 2011 yang dihubungi okezone melalui telepon selulernya, belum lama ini.

Anwar menambahkan, terpilihnya peraih penghargaan Fashion Icon sudah mengikuti seleksi yang begitu ketat dari dewan juri. Juri yang mendapatkan kehormatan tahun ini, di antaranya pengamat mode Muara Bagja, Taruna K Kusmayadi, dan lain-lain.

Adapun kriteria peraih penghargaan tersebut, Taruna K Kusmayadi yang dihubungi secara terpisah mengatakan secara singkat.

“Penghargaan itu untuk pencetus konsep ready-to- wear di Indonesia, insan mode yang berjasa menghidupkan kembali bordir, dan perancang yang sukses mengembangkan brand ready-to-wear,” jelas desainer yang kerap disapa Nuna ini.

Adapun siapa ketiga desainer yang akan mendapatkan penghargaan, Nuna masih enggan membocorkannya. “Nanti malam pasti tahu kok,” kilah Nuna.

Sebelumnya penghargaan Fashion Icon pernah digelar beberapa kali di ajang JFFF. Tahun 2006 ada tiga ikon yang terpilih, yakni Iwan Tirta, Peter Sie, dan Okky Asokawaty. Setahun kemudian terpilih Pia Alisyahbana, Ali Sadikin, dan Susan Budiardjo.

Kemudian 2008 ada Poppy Dharsono, Edward Hutabarat, dan Krisdayanti. Selanjutnya tahun 2009, JFFF memberikan penghargaan kepada Rudy Hadisuwarno, Martha Tilaar, dan Santosa Doellah. Untuk Fashion Icon Awards 2010 diraih Josephine Komara atau Obin, Ninuk Mardiana Pambudi, dan Christine Barki.
(Sc : OkeZone)

Senin, 23 Mei 2011

My FairyTale

Sejumlah model menampilkan pakaian rancangan Hengki Kawilarang dengan tema My FairyTale yang bercerita tentang negeri dongeng yang berasal dari imajinasi dalam kehidupan sehari-hari yang mempunyai karakter dan kondisi yang bermacam-macam, pada acara fashion show JFFF 2011 di Jakarta, Rabu (18/5/2011). 60 koleksi rancangan dipersembahkan dalam acara tersebut yang dibagi menjadi tiga bagian: Oriental, The Indonesian Culture, dan Le Couture.

 


Sc ; Okezone  

Jumat, 20 Mei 2011

'Moslem Wear', Wujud Persembahan Cinta bagi Muslimah

MASIH dalam rangkaian kegiatan Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF), sebanyak 12 desainer yang tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) menggelar peragaan busana bertema 'Moslem Wear'.

Mereka adalah Herman Nuary, Novia Hertini, Safartiwi Gadeng, Mysha, Ade Listiany, Yuyuk Nurmaisyah, Ade Irma, Hennie Noer, Adhy & Alie, Dian Pelangi, Siti Roslia, dan Jenny Tahyawati. Ke-12 desainer ternama itu mempersembahkan delapan koleksi terbaiknya.

Herman Nuary dengan tema 'Princess of Sahara' menceritakan keindahan sosok wanita muslimah dalam balutan baju muslim yang apik dengan penutup kepala yang elegan.

Tema 'Spirit of Cut Nyak Dien' oleh Safartiwi Gadeng, menampilkan rancangan yang terinspirasi dari rencong (senjata khas Aceh) yang melebur bersama sentuhan-sentuhan warna lembut dengan aplikasi bordir garis dan pita.

Menggunakan bahan sifon bermotif, sifon metalik gradasi dan bahan linen foal, tema 'Soul Bright' oleh Mysha ialah karya yang diperuntukan bagi remaja muslimah.

"Koleksi ini terinspirasi oleh gaya anak muda muslimah jaman sekarang, yang lihai berbusana muslim tanpa terlihat seperti ibu-ibu," kata Mysha sebelum peragaan busana di Hotel Harris, Kelapa Gading, Kamis (19/5/2011).

Dilanjutkan dengan koleksi Ade Listiany bertema 'Putri Lenggogeni' yang dituangkan ke dalam busana muslim bernuansa Minang. Selain penggunaan warna-warna cerah, busana juga dilengkapi dengan hiasan renda emas asli yang buat menggunakan tangan.

Mengangkat tema 'Techno Cultural', Lini Yuyuk Nurmaisyah menghadirkan desain busana muslim abaya yang konstruktif dengan warna-warna lembut.

"Saya ingin menyajikan cutting abaya longgar dengan teknik kain serong terbalik," jelas Yuyuk di kesempatan yang sama.

Sementara tema 'Gold on the Field' oleh Ade Irma, mengedepankan lini busana muslim sensasional dengan dominasi warna emas yang mewah.

Tema 'The Beauty' karya Hennie Noer terinspirasi dari gaya wanita kaum bangsawan Eropa, gaun cantik bergaya Eropa yang anggun dan elegan dengan teknik tumpuk, draperi, layerd dengan taburan beads dan payet.

Diangkat dari bahasa bugis yang memiliki arti wanita yang menawan, tema 'Dara Malebbi' rancangan Adhy&Alie ialah koleksi memesona dengan detail yang diadaptasi dari tanaman tropis menggunakan aksen draperi serta pleats yang menggambarkan alunan ombak dan hembusan angin pantai.

"Kesulitan selama pengerjaan belum ada yang berarti, hanya pengerjaannya cukup lama karena dibuat satu per satu. Koleksi yang sangat mewah sehingga cocok dikenakan untuk pesta," imbuh Alie.

Riuh tepukan tangan menggema sementara nama Dian Pelangi disebutkan untuk memeragakan lini bertema 'Al-Arousa' (pengantin) yang terinspirasi dari gaun pengantin khas TimurTengah yang memiliki warna dasar putih. Dian menambahkan detil bebatuan warna-warni dan perhiasan keemasan khas Indonesia, memberikan kesan glamor dan siluet yang anggun.

"Koleksi yang modern tapi tetap sesuai dengan syariat Islam. Cutting bawahan ball gown dari bahan songket berwarna soft," tutur Dian.

Sementara itu Siti Roslia dengan tema 'Shiny Brides' menjelaskan rancangannya sebagai koleksi yang membuat sang pemakai cantik dan berkilau di hari bahagia.

Koleksi Jeny Tjahyawati bertema 'On The Road to Savana' terinspirasi dari pemandangan padang rumput Savana. Menampilkan permainan volume (drape) dalam mix motif dan permainan tekstur dan cutting yang istimewa.
(