Senin, 19 Desember 2011
Tas Belanja Branded Palsu Jadi Tren di China
Korea sempat dilanda tren mode yang unik, mengoleksi tas belanja dari rumah mode atau brand eksklusif. Sekarang tren tersebut menjadi buruan para pecinta fashion di China.
Menurut laporan dari China Daily, penjualan tas kertas yang biasa didapat untuk membungkus barang yang telah dibeli, mengalami peningkatan. Bukan tas kertas biasa, melainkan tas dengan logo dari rumah mode ternama, seperti Chanel dan Hermes.
Seperti yang dikutip dari fashionista, salah satu situs belanja di China, Taobao mengungkapkan bahwa kantong belanja dari merek Hermes, Chanel dan Burberry dijual mulai dari harga, 5 yuan hingga 40 yuan atau sekitar Rp 7.180 hingga Rp 57.444.
Banyaknya permintaan mengenai kantong belanja itu, dimanfaatkan oleh beberapa produsen tas 'branded' palsu. Selain menjual tas palsu, mereka pun ramai-ramai menciptakan serta menjual kantung belanja 'branded' yang juga palsu.
"Pada awalnya, klien saya kebanyakan adalah orang yang menjual tas palsu. Belakangan ini, kami secara bertahap memenangkan pembeli potensial. Kenyataanya, tas kertas palsu atau tidak tidak mengubah permintaan pelanggan. Kebanyakan orang hanya membeli logo. Jika Anda melihatnya dari dekat, Anda dengan mudah bisa menemukan bahwa material yang digunakan berbeda dengan tas kertas yang asli," ujar Wang Xuesheng, penjual kantung belanja.
Tapi yang menjadi pertanyaan, mengapa tas kertas dengan logo rumah mode menjadi buruan? Dan dikenakan untuk apa? Menurut salah satu wanita China, Yang Xiaoya, ia menggunakan kantung tersebut untuk membawa hadiah yang akan diberikan untuk temannya. Selain itu, kantung tersebut juga dipakai untu membawa barang keperluan sehari-hari layaknya tote bag.
Namun yang semakin menarik dan aneh, beberapa toko bahkan juga ikut memberikan bon belanja palsu dengan logo merek eksklusif. Hal ini sengaja dibuat agar para pelanggan mereka dapat merasakan pengalaman berbelanja produk desainer.
"Tas kertas dengan logo ternama jauh lebih baik daripada tas kertas biasa," ujar Xiaoya.
Walaupun harga kantung belanja itu cukup terjangkau, namun hal tersebut jelas menyalahi hukum hak cipta. Menurut Mo Daiqing, seorang senior analyst dari E-commerce Research Center, menjual tas kertas palsu adalah pelanggaran hak properti intelektual merek-merek terkenal. Perhatian utama Daiqing, "adalah bahwa kemasan dan kuitansi pembelian palsu yang dapat digunakan oleh beberapa agen pembelian untuk menipu pelanggan mereka."
Tren kantung belanja itu tidak hanya berlangsung di China. Sebelumnya, The Wall Street Journal melaporkan bahwa para fashionista Korea juga sempat membeli dan menjual tas kertas dengan harga mencapai US$ 30 atau sekitar Rp 255 ribuan
Links Source :
http://www.wolipop.com/read/2011/12/19/174129/1794915/248/tas-belanja-branded-palsu-jadi-tren-di-china
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar